Arsip

Posts Tagged ‘kisah penyemangat’

Kisah Nyata Seorang OB (Office Boy) Menjadi Vice President CitiBank

Juli 23, 2010 14 komentar

Sungguh sebuah karunia yang luar biasa bagi saya bisa bertemu dengan seorang yang memiliki pribadi dan kisah menakjubkan. Dialah Houtman Zainal Arifin, seorang pedagang asongan, anak jalanan, Office Boy yang kemudian menjadi Vice President Citibank di Indonesia. Sebuah jabatan Nomor 1 di Indonesia karena Presiden Direktur Citibank sendiri berada di USA.

Tepatnya 10 Juni 2010, saya berkesempatan bertemu pak Houtman. Kala itu saya sedang mengikuti training leadership yang diadakan oleh kantor saya, Bank Syariah Mandiri di Hotel Treva International, Jakarta. Selama satu minggu saya memperoleh pelatihan yang luar biasa mencerahkan, salah satu nya saya peroleh dari Pak Houtman. Berikut kisah inspirasinya:

Sekitar tahun 60an Houtman memulai karirnya sebagai perantau, berangkat dari desa ke jalanan Ibukota. Merantau dari kampung dengan penuh impian dan harapan, Houtman remaja berangkat ke Jakarta. Di Jakarta ternyata Houtman harus menerima kenyataan bahwa kehidupan ibukota ternyata sangat keras dan tidak mudah. Tidak ada pilihan bagi seorang lulusan SMA di Jakarta, pekerjaan tidak mudah diperoleh. Houtman pun memilih bertahan hidup dengan profesi sebagai pedagang asongan, dari jalan raya ke kolong jembatan kemudian ke lampu merah menjajakan dagangannya.

Tetapi kondisi seperti ini tidak membuat Houtman kehilangan cita-cita dan impian. Suatu ketika Houtman beristirahat di sebuah kolong jembatan, dia memperhatikan kendaran-kendaraan mewah yang berseliweran di jalan Jakarta. Para penumpang mobil tersebut berpakaian rapih, keren dan berdasi. Houtman remaja pun ingin seperti mereka, mengendarai kendaraan berpendingin, berpakaian necis dan tentu saja memiliki uang yang banyak. Saat itu juga Houtman menggantungkan cita-citanya setinggi langit, sebuah cita-cita dan tekad diazamkan dalam hatinya. Baca selanjutnya…

Iklan

Percakapanku dengan Tuhan

Juli 17, 2010 6 komentar

Suatu malam di saat aku sedang mengerjakan tugas2 kantor yang kubawa pulang, tiba2 terdengar suara Tuhan.

TUHAN : Kamu memanggilKu?

AKU : Memanggilmu? Tidak… Ini siapa ya?

TUHAN : Ini TUHAN. Aku mendengar doamu. Jadi Aku ingin berbincang-bincang denganmu.

AKU : Ya, saya memang sering berdoa, hanya agar saya merasa lebih baik. Tapi sekarang saya sedang sibuk, sangat sibuk.

TUHAN : Sedang sibuk apa? Semut juga sibuk.

AKU : Nggak tau ya. Yang pasti saya tidak punya waktu luang sedikitpun. Hidup jadi seperti diburu-buru. Setiap waktu telah menjadi waktu sibuk.

TUHAN : Benar sekali. Aktifitas memberimu kesibukan. Tapi produktifitas
memberimu hasil. Aktifitas memakan waktu, produktifitas membebaskan waktu.

AKU : Saya mengerti itu. Tapi saya tetap tidak dapat menghidarinya. Sebenarnya,saya tidak mengharapkan Tuhan mengajakku ngobrol seperti ini.

TUHAN : Aku ingin memecahkan masalahmu dengan waktu, dengan memberimu beberapa petunjuk.

AKU : OKE, sekarang beritahu saya, mengapa hidup jadi begitu rumit? Baca selanjutnya…

Koin Peninggalan Kakek

Juli 1, 2010 2 komentar

Kugenggam koin itu di telapak tanganku. Dengan erat. Takkan kulepaskan barang sedetik pun. Terus dan terus kugenggam, sampai terkadang terasa menyakitkan. Ketika kuku-kuku jariku menancapkan dirinya ke telapak tanganku sendiri. Berbekas, bertanda, dan sakit. Itu karena aku takut koin itu terlepas begitu saja.

Koin itu begitu berharga. Koin itu memang sebetulnya sebuah koin langka yang amat kusukai. Koin itu peninggalan dari kakekku, seorang kolektor koin. Di antara banyak koin yang dimilikinya hanya ini yang kusukai. Mungkin karena tahun di koin ini sama dengan tahun lahir kakek. Tahun 1930. Kakek yang meninggal tahun lalu memang juga merupakan kesayanganku, sama seperti aku adalah kesayangannya.

Tuk…Aduhhh…

Tak hati-hati aku tersandung sebuah kerikil yang agak besar ketika aku berjalan pulang ke rumahku. Koin itu-sekeras apa pun genggamanku-terlepas begitu saja dari tanganku. Baca selanjutnya…

Halo Operator

Juni 28, 2010 4 komentar

Waktu saya masih amat kecil, ayah sudah memiliki telepon di rumah kami. Inilah telepon masa awal, warnanya hitam, di tempelkan di dinding, dan kalau mau menghubungi operator, kita harus memutar sebuah putaran dan minta disambungkan dengan nomor telepon lain. Sang operator akan menghubungkan secara manual.

Dalam waktu singkat, saya menemukan bahwa, kalau putaran di putar, sebuah suara yang ramah, manis, akan berkata : “Operator”. Dan si operator ini maha tahu.
Baca selanjutnya…

Kesehatan adalah yang Utama

Dikisahkan ada seorang pria muda yang baru lulus S2 dengan ambisi untuk sukses. Ia meniti karir dengan sangat rajin, semangat, dan penuh dedikasi untuk membangun cita-citanya sebagai yang tersukses di antara teman-teman sekolahnya. Tantangan demi tantangan bisnis dan karir ia hadapi dengan berani. Tak pelak lagi, tanpa disadari stress menjadi bagian dari hidupnya.

Waktunya telah didominasi oleh kesibukan kerja yang tiada henti, meeting di sana-sini dan terjebak macet di jalanan membuatnya kompromi untuk urusan makan. “Yang penting cepat, karena saya tidak punya banyak waktu. Masih lebih banyak kesibukan yang berarti daripada buang waktu untuk memikirkan makanan. Asal ada makanan yang masuk supaya perut tidak keroncongan, itu sudah cukup.”, begitulah kira-kira pikirnya. Stress kerja yang semakin tinggi juga perlahan-lahan memperkenalkannya dengan kebiasaan merokok sebagai solusi instant.
Baca selanjutnya…