Archive

Posts Tagged ‘cewek’

Buat Para Cowok yang BeTe nungguin Cewek pas di Toilet

September 7, 2010 Tinggalkan komentar

Bagi para cowok yang ngerasa Bete karena nungguin ceweknya lama banget pas di toilet di sebuah mall, mungkin ini dapat membuka pikiran anda : Baca selanjutnya…

Kata-kata dari Cewek yang bikin Cowok terhenyak

Agustus 3, 2010 Tinggalkan komentar

1. “Saya sudah memikirkannya…”
Bila seorang wanita benar-benar mengatakan dia sudah memikirkannya, berarti permasalahannya serius. Dan kaum pria dapat menebak, apa yang akan dibicarakan si wanita biasanya menyangkut hal yang paling pahit, seperti si wanita minta putus hubungan. Bentuknya bisa bermacam-macam, seperti, “Kenapa kamu mencintai saya?” dan “Pernahkah kamu memikirkan tentang masa depan kita?”

2. “Bisa, enggak, bersikap lebih jantan?”
Tidak ada yang lebih menyakitkan dibandingkan kejantanan seorang pria disinggung atau dipermasalahkan.

3. “Orang tuaku mau ketemu kamu.”
Hal ini dapat berarti:
*Hubungan mengarah pada tingkatan yang serius.
*Secara psikologis, si pria sedang jadi pusat perhatian keluarga kekasihnya.

4. “Maaf, saya sedang sakit kepala.”
Artinya, malam ini tidak ada acara berkencan. Gubrak.
Baca selanjutnya…

Perhatikan Gambar ini dalam 5 Detik

Juli 26, 2010 2 komentar

Coba semua perhatikan gambar dibawah ini dalam 5 detik. Apakah perasaan anda ga enak.. Hahaha.. Kalo berani buktikanlah.. ^^

Cowok vs Cewek

Maret 31, 2010 Tinggalkan komentar

Hi Guys, dalamnya laut dapat kita ukur, tapi dalamnya hati siapa tau, peribahasa waktu gue duduk di bangku SD yang masih gue hafal sampai saat ini. Gue mikir2 ternyata apa yang dikatakan cowok ma cewek kadang2 berbeda. So you guyz, harus bisa menerka apa yang sebenarnya ada dalam hati cowok/cewek tersebut.

Kata orang, cewek lebih ribet, ketika dia bilang tidak, padahal sebenarnya iya, dan sebaliknya. Ini gue kasi liat gambar yang bisa ngeliatin kalian, secara garis besar perbedaan antara cowok dan cewek. Klik aja di gambarnya buat gedein. 🙂

Bahasa Cowok vs Bahasa Cewek

Mencintai tanpa syarat…

Maret 12, 2009 9 komentar

Lima tahun usia pernikahanku dengan Ellen sungguh masa yang sulit. Semakin hari semakin tidak ada kecocokan diantara kami. Kami bertengkar karena hal-hal kecil. Karena Ellen lambat membukakan pagar saat aku pulang kantor. Karena meja sudut di ruang keluarga yang ia beli tanpa membicarakannya denganku, bagiku itu hanya membuang uang saja.

Hari ini, 27 Agustus adalah ulang tahun Ellen. Kami bertengkar pagi ini karena Ellen kesiangan membangunkanku. Aku kesal dan tak mengucapkan selamat ulang tahun padanya, kecupan di keningnya yang biasa kulakukan di hari ulang tahunnya tak mau kulakukan. Malam sekitar pukul 7, Ellen sudah 3 kali menghubungiku untuk memintaku segera pulang dan makan malam bersamanya, tentu saja permintaannya tidak kuhiraukan.

Jam menunjukkan pukul 10 malam, aku merapikan meja kerjaku dan beranjak pulang. Hujan turun sangat deras, sudah larut malam tapi jalan di tengah kota Jakarta masih saja macet, aku benar-benar dibuat kesal oleh keadaan. Membayangkan pulang dan bertemu dengan Ellen membuatku semakin kesal!

Akhirnya aku sampai juga di rumah pukul 12 malam, dua jam perjalanan kutempuh yang biasanya aku hanya membutuhkan waktu 1 jam untuk sampai di rumah.

Kulihat Ellen tertidur di sofa ruang keluarga. Sempat aku berhenti di hadapannya dan memandang wajahnya. “Ia sungguh cantik” kataku dalam hati, “Wanita yang menjalin hubungan denganku selama 7 tahun sejak duduk di bangku SMA yang kini telah kunikahi selama 5 tahun, tetap saja cantik”. Aku menghela nafas dan meninggalkannya pergi, aku ingat kalau aku sedang kesal sekali dengannya..

Aku langsung masuk ke kamar. Di meja rias istriku kulihat buku itu, buku coklat tebal yang dimiliki oleh istriku. Bertahun-tahun Ellen menulis cerita hidupnya pada buku coklat itu. Sejak sebelum menikah, tak pernah ia ijinkan aku membukanya. Inilah saatnya! Aku tak mempedulikan Ellen, kuraih buku coklat itu dan kubuka halaman demi halaman secara acak.

14 Februari 1996. Terima kasih Tuhan atas pemberianMu yang berarti bagiku, Vincent, pacar pertamaku yang akan menjadi pacar terakhirku. Hmm… aku tersenyum, Ellen yakin sekali kalau aku yang akan menjadi suaminya. Baca selanjutnya…