Arsip

Posts Tagged ‘buddhis’

Ajahn Brahm Tour d’Indonesia 2012

Maret 4, 2012 2 komentar

Ajahn BrahmNamo Buddhaya, Salam Pencerahan untuk kita semua. Senang sekali rasanya saya dapat membagikan karma baik ini. Temen2 smua, tau dong dengan buku best seller yang berjudul Cacing dan Kotoran Kesayangannya? Tau siapa yang nulis? Yup, beliau adalah Ajahn Brahm.

Sedikit biografi tentang beliau, Ajahn Brahmavamso lahir di London tahun 1951. Beliau memandang dirinya sebagai seorang Buddhis saat berusia 17 tahun lewat buku Agama Buddha yang dibacanya saat masih sekolah. Beliau tertarik pada Agama Buddha dan meditasi yang telah berkembang ketika belajar Teori Fisika di Universitas Cambridge. Setelah menyelesaikan tingkatannya dan belajar selama 1 tahun, Beliau melakukan perjalanan ke Thailand untuk menjadi bhikkhu. Beliau ditahbiskan di Bangkok saat berusia 23 tahun oleh kepala biara Wat Saket dan selanjutnya menghabiskan 9 tahun untuk belajar serta berlatih Tradisi Meditasi Hutan dari Y.M. Ajahn Chah. Pada tahun 1983, beliau diminta untuk membantu mendirikan Biara Hutan dekat Perth, Australia Barat. Ajahn Brahm sekarang adalah kepala biara Bodhinyana dan direktur kerohanian pada Perkumpulan Buddhis Australia Barat.

Nah, beliau ini selain seorang Buddhis yang sedang menuju pencerahan juga memiliki keahlian dalam menyampaikan pesan2 dari Buddha Gautama lewat dalam sebuah cerita, postur, mimik pembawaannya sangatlah bagus. Kali ini, sebagai seorang Buddhis, saya merasa perlu untuk menyampaikan kabar gembira ini. Baca selanjutnya…

Ayam atau Bebek? – Cacing dan Kotoran kesayangannya

Agustus 11, 2011 2 komentar

Cerita ini diambil dalam buku Cacing dan Kotoran kesayangannya (Ajahn Brahm), aku hanya ambil yang paling aku suka, yaitu Ayam atau Bebek.
Begini ceritanya, sepasang pengantin baru tengah berjalan bergandengan tangan di sebuah hutan
pada suatu malam musim panas yang indah, seusai makan malam.
Mereka sedang menikmati kebersamaan yang menakjubkan tatkala mereka
mendengar suara di kejauhan: “Kuek! Kuek!”

“Dengar,” kata si istri, “Itu pasti suara ayam.”

“Bukan, bukan. Itu suara bebek,” kata si suami.

“Nggak, aku yakin itu ayam,” si istri bersikeras.

“Mustahil. Suara ayam itu ‘kukuruyuuuk!’, bebek itu ‘kuek! kuek!’ Itu
bebek, Sayang,” kata si suami dgn disertai gejala-gejala awal
kejengkelan.

“Kuek! Kuek!” terdengar lagi.

“Nah, tuh! Itu suara bebek,” kata si suami.

“Bukan, Sayang. Itu ayam. Aku yakin betul,” tandas si istri, sembari
menghentakkan kaki.

“Dengar ya! Itu a? da? lah? be? bek, B-E-B-E-K. Bebek! Mengerti?” si
suami berkata dengan gusar.

“Tapi itu ayam,” masih saja si istri bersikeras.

“Itu jelas-jelas bue? bek, kamu? kamu?.”

Terdengar lagi suara, “Kuek! Kuek!” sebelum si suami mengatakan sesuatu
yang sebaiknya tak dikatakannya.

Si istri sudah hampir menangis, “Tapi itu ayam?.”

Si suami melihat air mata yang mengambang di pelupuk mata istrinya,
dan akhirnya, ingat kenapa dia menikahinya. Wajahnya melembut dan katanya
dengan mesra, “Maafkan aku, Sayang. Kurasa kamu benar. Itu memang suara
ayam kok.”

“Terima kasih, Sayang,” kata si istri sambil menggenggam tangan suaminya.

“Kuek! Ku ek!” terdengar lagi suara di hutan, mengiringi mereka berjalan
bersama dalam cinta.

Maksud dari cerita bahwa si suami akhirnya sadar adalah: siapa sih yang
peduli itu ayam atau bebek? Yang lebih penting adalah keharmonisan mereka,
yang membuat mereka dapat menikmati kebersamaan pada malam yang indah itu.
Berapa banyak pernikahan yang hancur hanya gara-gara persoalan sepele?
Berapa banyak perceraian terjadi karena hal-hal “ayam atau bebek”?

Ketika kita memahami cerita tersebut, kita akan ingat apa yang menjadi
prioritas kita. Banyak hal jauh lebih penting ketimbang mencari siapa yang
benar tentang apakah itu ayam atau bebek
. Lagi pula, betapa sering kita
merasa yakin, amat sangat mantap, mutlak bahwa kita benar, namun belakangan
ternyata kita salah? Lho, siapa tahu? Mungkin saja itu adalah ayam yang
direkayasa genetik sehingga bersuara seperti bebek !

Atheis Pietis

September 30, 2010 Tinggalkan komentar

Tahun ini adalah tahun yang membingungkan buatku. Baru di tahun ini rasanya aku merasa musim kemarau datang hanya sesaat. Bahkan bulan Agustus yang biasanya terik menyengat, malah menjadi dingin menusuk. Apa lagi kami tinggal di kota dimana hujan turun dengan melimpah.

Setiap kali hujan, biasanya manusia cenderung ogah, mengkerut dan moody. Begitu pula dengan saya saat ini. Malam menjelang, namun hujan gerimis yang mengguyur bumi dari tadi sore masih tampak jumawa, enggan berhenti. Dan tiap kali hujan gerimis turun, aku merasakan kesenduan, keheningan dan kehilangan. Kehilangan akan seseorang yang begitu bermakna. Kehilangan yang tidak akan mampu ditebus lagi. Kehilangan akan seseorang yang begitu dirindukan. Ia bukan pacar. Ia bukan saudara atau kerabat. Ia hanya seorang yang datang sesaat dalam kehidupanku, dan menyapaku dalam caranya yang lugu, khas dan sederhana, namun dampaknya bagaikan hantaman puting beliung dalam kepalaku. Ia hanya seorang laki-laki tua sederhana.

Beginilah ceritanya: Baca selanjutnya…

Hormati Buddha, Anjing Kecil Ber-Anjali

Agustus 25, 2010 2 komentar

Bhiksu Joei Yoshikuni di Vihara Shuri Kannondo di Okinawa, Jepang, memelihara seekor anjing kecil. Anjing kecil bernama Conan yang berusia 1,5 tahun itu ternyata bisa meniru gerakan bersujud dan ber-anjali menghormat pada Buddha seperti yang dilakukan tuannya. Baca selanjutnya…