Archive

Posts Tagged ‘bijaksana’

Being Happy is The Priority of Living

Januari 10, 2011 4 komentar

Bangun2, kakiku pegel, dibuat jalan malah sakit. 

Tapi mau ga mau harus tetep berangkat ke kantor, apalagi karena dibangunin someone, jadi ngerasa dapet semangat buat hidup.

Ok, bukan itu topik hari ini. Aku mau bahas tentang Being Happy is The Priority of Living. Why? Sebenarnya apa sih tujuan hidup kita saat ini, ingin jadi orang kaya? jadi orang terkenal kayak Om Gayus?

Boleh2 aja mau jadi seperti itu, tapi coba baca cerita ini. Pengarangnya unknown, jadi kusadur bebas aja. Bacanya dari slide show dapet download dari internet. Baca selanjutnya…

Pentingnya Kesadaran

Maret 17, 2010 Tinggalkan komentar

KesadaranTak banyak diantara kita yang menyadari betapa pentingnya kesadaran itu, sebagai manusia pada umumnya, kita semua memiliki indera pikiran, selain kelima indera lainnya. Kesadaran terletak pada pikiran, pikiran yang terganggu oleh masalah semakin melemahkan kesadaran kita, atau karena minuman keras maupun obat2an juga dapat melemahkan kesadaran kita.

Kemarahan terjadi ketika sedang tidak dalam keadaan sadar. Bagaimana tidak, kalau kita mengetahui kita sedang marah, seharusnya pikiran sehat kita akan mengatakan bahwa kemarahan tidak akan memperbaiki suasana, namun karena lemahnya kesadaran kita, bahkan kita sendiripun tidak sadar kalau kita sedang marah, sedang emosi, sedang ingin mencelakai orang lain. Baca selanjutnya…

Mencintai tanpa syarat…

Maret 12, 2009 9 komentar

Lima tahun usia pernikahanku dengan Ellen sungguh masa yang sulit. Semakin hari semakin tidak ada kecocokan diantara kami. Kami bertengkar karena hal-hal kecil. Karena Ellen lambat membukakan pagar saat aku pulang kantor. Karena meja sudut di ruang keluarga yang ia beli tanpa membicarakannya denganku, bagiku itu hanya membuang uang saja.

Hari ini, 27 Agustus adalah ulang tahun Ellen. Kami bertengkar pagi ini karena Ellen kesiangan membangunkanku. Aku kesal dan tak mengucapkan selamat ulang tahun padanya, kecupan di keningnya yang biasa kulakukan di hari ulang tahunnya tak mau kulakukan. Malam sekitar pukul 7, Ellen sudah 3 kali menghubungiku untuk memintaku segera pulang dan makan malam bersamanya, tentu saja permintaannya tidak kuhiraukan.

Jam menunjukkan pukul 10 malam, aku merapikan meja kerjaku dan beranjak pulang. Hujan turun sangat deras, sudah larut malam tapi jalan di tengah kota Jakarta masih saja macet, aku benar-benar dibuat kesal oleh keadaan. Membayangkan pulang dan bertemu dengan Ellen membuatku semakin kesal!

Akhirnya aku sampai juga di rumah pukul 12 malam, dua jam perjalanan kutempuh yang biasanya aku hanya membutuhkan waktu 1 jam untuk sampai di rumah.

Kulihat Ellen tertidur di sofa ruang keluarga. Sempat aku berhenti di hadapannya dan memandang wajahnya. “Ia sungguh cantik” kataku dalam hati, “Wanita yang menjalin hubungan denganku selama 7 tahun sejak duduk di bangku SMA yang kini telah kunikahi selama 5 tahun, tetap saja cantik”. Aku menghela nafas dan meninggalkannya pergi, aku ingat kalau aku sedang kesal sekali dengannya..

Aku langsung masuk ke kamar. Di meja rias istriku kulihat buku itu, buku coklat tebal yang dimiliki oleh istriku. Bertahun-tahun Ellen menulis cerita hidupnya pada buku coklat itu. Sejak sebelum menikah, tak pernah ia ijinkan aku membukanya. Inilah saatnya! Aku tak mempedulikan Ellen, kuraih buku coklat itu dan kubuka halaman demi halaman secara acak.

14 Februari 1996. Terima kasih Tuhan atas pemberianMu yang berarti bagiku, Vincent, pacar pertamaku yang akan menjadi pacar terakhirku. Hmm… aku tersenyum, Ellen yakin sekali kalau aku yang akan menjadi suaminya. Baca selanjutnya…