Beranda > Curhat Gue, Kehidupan, Love, Memory, Romantis > Tunggu Aku Di Jakarta – Baru Terasa, Sungguh Jahatnya ‘Jarak’

Tunggu Aku Di Jakarta – Baru Terasa, Sungguh Jahatnya ‘Jarak’

Kamu penggemar Sheila On 7? Ya, aku juga.

Tunggu aku di Jakarta, sebuah lagu dari album kedua Sheila On 7 yang bertajuk Kisah Klasik untuk Masa Depan ini akhir2 ini sering terdengar di sudut kamar kos di sebuah kota kecil dekat dengan Jogja. Coba tebak, siapa orang yang sering memutar lagu itu? Ya, tebakan kalian benar. Orang itu adalah aku. aku

Aku, jujur saja, awalnya tidak terlalu suka dengan lagu Tunggu Aku di Jakarta ini, aku lebih suka dengan lagu2 ngebeat Sheila On 7 seperti Sahabat Sejati, Seberapa Pantas dsb. Lagu ini seperti lagu numpang lewat ketika aku menyalakan winamp dengan mode shuffle. Tanpa kesan, just listening. musik

Sampai suatu hari . . . Aku merasa menemui titik balik dalam hidupku, ada seseorang yang mampu merubah pandanganku terhadap lagu ini. Lama2 aku mulai menikmati lirik demi lirik di lagu ini. Dan semakin hari, lirik2nya menjadi semakin nyata terjadi dalam kehidupanku, detail lagu tersebut semakin mengena di hatiku, videonyapun yang langsung kucari di Youtube, semakin menjadikan lagu ini sebagai soundtrack kehidupanku.

Kisah itu berawal pada tanggal 29 Juni 2010, ketika aku pertama kali bertemu dengan seseorang wanita, yang tak ku mengerti dan tanpa kusadari, sekarang telah menjadi bagian penting di dalam kehidupanku.Dia yang menuntunku, mengenalkanku kepada indahnya sebuah cinta.

Dia tidak begitu cantik menurutku, namun wajahnya cukup manis, pemikirannya cerdas, dan dia adalah sosok wanita pemimpin. Perangainya yang terlihat dari luar memang menunjukkan dia wanita yang keras terhadap pria, wanita yang tangguh, wanita yang tak mau mengalah, selalu ingin menjadi yang terbaik.

Bahkan ketika aku memutuskan untuk memacarinya, beberapa teman dekatku sempat kurang mendukungku, mereka terlalu khawatir aku bakal dipermainkan oleh wanita ini, bakal ditindas oleh sikap kepimpinannya, mereka terlalu khawatir. Aku tau kalau sifatku lebih pendiam, lebih halus, dan mereka juga pasti memikirkan itu.

Bagiku, kekurangan2 yang dia miliki justru membuat dia tampak sempurna di hadapanku, perbedaan2 yang kami miliki justru aku anggap sebagai pemersatu jiwa kami. Akan sangat aneh bila kita menginginkan orang yang kita cintai sama seperti kita, apa bedanya saat kita berbicara pada cermin. Perbedaan itu indah, sangat indah. Setidaknya itulah yang kurasakan saat dengannya.

Kebersamaan kami semakin lebih dekat ketika dia pindah kerja ke kotaku ini, kota kecil dekat Jogja. Tiap hari kami lalui bersama, berangkat kantor bareng, makan siang bersama, dinner juga selalu berdua. Bahkan suatu hari kuajak dia ke kota Jogja, kota dimana aku mengambil pendidikan Strata 1 ku di sebuah universitas di Jogja, kami ke malioboro, jalan kaki di sepanjang malioboro, mencicipi es dawet di pinggir jalan yang ada di Malioboro, pergi keliling jogja, dan mengunjungi tempat lainnya di Jogja, aku sangat menikmati perjalananku dengannya waktu itu.

Hingga suatu siang, handphoneku berbunyi, kudengar suaranya yang memberiku kabar, dan akupun hanya terdiam. Dia akan kembali ke Jakarta, ya, Jakarta. Kapan? Besok pagi. Sebuah kabar mendadak yang membuatku tak bisa berkonsentrasi apapun waktu itu, tanganku lemas, kakipun serasa tak mampu menopang tubuhku dan seharian itu aku hanya berpura2 tersenyum.

Sore itu, kami saling mengucap janji untuk saling setia dan saling mengingat walau kami jauh, jika kota kecil ini bukan tempat yang cocok buat kami, maka akulah yang akan mencoba meraih mimpi2ku di ibukota, akan kukayuh semua harapanku di sana, bersamanya.

Love

Gantungan Kunci Kami, Biru ada padaku, Merah muda ada padanya - Agar kami selalu saling ingat meski berada sangat jauh

Kini, kami terbentang jarak 580km, bukan jarak yang dekat untuk aku tempuh jika ingin menemuinya. Baru terasa, sungguh jahatnya jarak. Hanya saling mengirim kabar melalui SMS dan telepon, chatting, dan media sosial lainnya. Terkadang aku cemburu, saat dia bersama dengan orang lain, berbagi dengan orang lain, bukan denganku, bukan bersamaku. Tapi jaraklah yang membuat aku tak mampu untuk bersamanya saat ini. Oke baiklah, terserah dia ingin tertawa di hadapan orang lain, bercanda gurau dengan pria lain, namun jika dia  sedih dan ingin menangis, maka hanya denganku dia boleh menunjukkan air matanya. Aku ingin memeluknya ketika dia menangis, aku ingin menyeka air matanya.

Kami, bukan sepasang kekasih yang menganggap cinta untuk main2, untuk sebagai penghibur, kami punya tujuan yang mulia, ya, kami ingin menuju jenjang hubungan yang lebih tinggi, yaitu pernikahan. Aku ingin dia mau menemani sisa hidupku nanti, aku ingin dia melahirkan dan membesarkan anak2ku nanti, aku ingin saat tuaku nanti, dia yang selalu ada di sisiku, saat gigi kami ompong, saat kami tertawa bersama mengenang perjalanan cinta kami.

Aku harap dia terus berusaha menjadi yang terbaik untukku, dan akupun akan terus berusaha menjadi yang terbaik untuknya.

Sayangku, Tunggu Aku di Jakarta.

Swaragama

  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: