Beranda > Curhat Gue, Info, Kebijaksanaan, Kehidupan, Tips > Perlukah Balas Dendam?

Perlukah Balas Dendam?

Kemarin aku kerja lembur karena mau ngejar target, pulang dari kantor udah pagi. Jam udah menunjukkan pukul 00.10. Pikiran udah stress.stress

Sesampainya di hotel, bersihin badan lalu mau tidur, kok rasanya ga bisa tidur karena pikiran masih stress. Jeng jeng. Nyalain laptop deh, lanjutin nonton The Lucky Guy pilemnya Koko Stephen Chow. Ngakak2 liat tingkah sok coolnya si koko.ngakak

Lho kok ga nyambung sama judulnya? Hahahahaha. Jadi ceritanya begini, film yang kutonton ada ceweknya namanya Candy, dia tuh yang disukai sama Sui yang diperanin si koko. Candy nih dulu pernah dikerjain sama si Sui waktu masih duduk di bangku sekolah. Nah waktu uda gede, dan ketemu lagi, dia bales gantian ngerjain si Sui. Lucu deh balas dendamnya.ngekek

Tapi itu hanya di FILM, di dunia nyata tidaklah seperti itu. Banyak kejadian balas dendam yang bertujuan tidak hanya mengerjai, tapi menjatuhkan bahkan melakukan pembunuhan karakter.bunuh

Bahkan saat kita dijahati oleh orang lain, sekecil apapun, kita akan merasa tersinggung, dan kita ingat2 terus di dalam otak kita, bahwa suatu saat nanti orang itu harus mendapatkan balasan yang setimpal.wajib

Kita jalan2 ke Jerman yuhhh..motor Menurut peneliti di sebuah universitas di Jerman sana, Universitas Zurich, Ernst Fehr pada otak manusia terdapat bagian bernama dorsal striatum, bagian inilah yang bertugas untuk memberikan perasaan nikmat terdapat reaksi emosional schadenfreude (rasa puas yang dirasakan ketika orang lain menerima kemalangan). ketawaBagian dorsal striatum ini akan otomatis teraktivasi ketika kita merencanakan sesuatu untuk membalas dendam ke orang lain sehingga orang lain tersebut menderita di dalam pikiran kita.

Itulah kenapa kita merasa ingin melakukan balas dendam. Semakin detil plot rancangan balas dendam kita kepada orang lain, semakin banyak aliran darah yang mengalir ke dorsal striatum, akibatnya semakin besar antisipasi kenikmatan yang dirasakan. kecutItulah kita akan merasa nikmat terus menerus saat melakukan perencanaan membuat orang lain menderita.

Apakah berhenti sampai di situ. Tidak. Ketika kita memikirkan bagaimana resiko, dan bagaimana konsekuensi yang harus kita hadapi saat melakukan balas dendam tersebut, aliran darah ke otak akan berkurang. awasKenikmatan balas dendam itu hanya ada di tahap perencanaan dan antisipasinya. Jika balas dendam bener2 dilakukan, perasaan nikmat itu lama2 akan tergantikan perasaan2 negatif, karena kita akan semakin diingatkan terhadap resiko dan konsekuensi yang bakal kita hadapi.

Setelah dari Jerman, kita menengok ke negeri Paman Sam. United States. Daniel Gilbert dari Universitas Harvard, AS menegaskan hal tersebut, “Actually inflicting revenge on someone who has wronged us leaves us feeling anything but pleasure.

Orang akan merasa bahwa dengan balas dendam kita akan merasakan kepuasan tersendiri. Tapi justru sebaliknya, orang yang berharap merasakan kepuasaan setelah balas dendam, justru ujung2nya adalah ketidakpuasan yang berkepanjangan. Why? kerenKarena saat kita balas dendam, kita cenderung akan mengingat orang yang telah menyakiti kita secara terus menerus, sementara orang yang tidak balas dendam, cenderung meneruskan hidupnya tanpa memusingkan orang yang telah menyakitinya.

Menurut seorang psikolog sosial, Kevin Carlsmith dari Universitas Colgate, AS tujuan balas dendam adalah demi menyeimbangkan keadaan dan merasakan kepuasan, namun anehnya jika dilakukan malah menciptakan efek berkebalikan. Dia menganjurkan untuk tidak balas dendam karena hanya akan menyakiti diri kita sendiri. tolongSedangkan menurut Dr. S.I. McMillan, balas dendam juga membuat diri kita rentan terhadap penyakit seperti serangan jantung dan tekanan darah tinggi.

Nah, kesimpulannya, kenikmatan balas dendam itu hanya pada tahap perencanaannya saja, jika dilakukan, malah akan menimbulkan efek2 yang membuat kita menderita.

Perlu diketahui bagaimanapun juga, balas dendam tidak akan membawa kebahagiaan yang sejati. Balas dendam hanya akan membuat kita satu level seperti orang yang telah menyakiti kita atau bahkan lebih rendah.

Saat orang menyakiti kita, dia menang. Dan saat kita balas dendam, dia menang untuk kedua kalinya.

Mungkin cara yang terbaik adalah dengan memaafkannya. Memaafkan adalah cara balas dendam yang paling manis yang pernah ada. senyum

inspired by Sya.

  1. Anindia
    Februari 27, 2011 pukul 2:33 pm

    Keren,artikel yg bagus,semoga orang lantai 3 baca ini&trbuka pikirannya.tolong ditambahin,percuma kita slalu teriak ‘dlm nama Tuhan’,aktif di kegiatan agama tp dlm hati nyimpen dendam yg brkepanjangan

    • Februari 27, 2011 pukul 5:22 pm

      Thanks yah hun. Kalau kita ga bisa merubah orang lain, setidaknya kita bisa mengubah diri kita sendiri menjadi lebih baik.. ^_^

  2. Sya
    Februari 28, 2011 pukul 8:36 am

    Oh jadi ini versi kamu ya? Hihihih. Mari sebarkan kebaikan, biar ga main dendam-dendaman🙂

    • Februari 28, 2011 pukul 9:34 am

      Yup. Bener, jangan sampai karena marah dan benci, mengharapkan orang lain celaka.😀

  3. karimariza
    Juli 24, 2011 pukul 12:09 pm

    ”Saat orang menyakiti kita, dia menang. Dan saat kita balas dendam, dia menang untuk kedua kalinya.”

    Pernah baca tentang ini. Tapi saya ga setuju kalau didiamkan saja.

    Saya lebih milih santai, tapi saat ada kesempatan, ambil!haha

    Misal: sehari-hari saya lupakan, sibuk beraktivitas. Tapi suatu hari ketemu dia dipinggir jurang, hmm.. dorong aja langsung!

    Atau memberi tindakan pencegahan. Misal: kita pernah ditipu, kita pikirkan cara agar tidak terjebak lagi. Memberi bumerang ke dia lebih bagus..hahaha

    • Juli 25, 2011 pukul 1:47 am

      Hahaha.. itu juga bagus, asal hidup kita jangan terlalu dipenuhi dengan keinginan untuk membalas dendam..😀

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: