Beranda > Kebijaksanaan, Kehidupan, Kesuksesan, Persahabatan, Tips > Being Happy is The Priority of Living

Being Happy is The Priority of Living

Bangun2, kakiku pegel, dibuat jalan malah sakit. 

Tapi mau ga mau harus tetep berangkat ke kantor, apalagi karena dibangunin someone, jadi ngerasa dapet semangat buat hidup.

Ok, bukan itu topik hari ini. Aku mau bahas tentang Being Happy is The Priority of Living. Why? Sebenarnya apa sih tujuan hidup kita saat ini, ingin jadi orang kaya? jadi orang terkenal kayak Om Gayus?

Boleh2 aja mau jadi seperti itu, tapi coba baca cerita ini. Pengarangnya unknown, jadi kusadur bebas aja. Bacanya dari slide show dapet download dari internet.

Ada 3 orang alumni datang mengunjungi profesornya, mereka sudah ada yang menikah, bekerja jadi karyawan, juga ada yang berwiraswasta. Nah, mereka emang sengaja mau berkunjung ke dosennya dulu waktu mereka masih kuliah. Buat silaturahmi gitu.

Profesorpun membukakan pintu, dan mempersilahkan mereka masuk.

“Wah ada angin apa kalian datang ke sini?” kata profesor setelah mengetahui ketiga orang yang datang adalah alumninya.

Salah satu dari mereka menjawab, kalau ingin berkunjung dan ingin meminta nasehat hidup. Kemudian profesor mempersilahkan mereka masuk.

Merekapun ngobrol dengan asyiknya. Sampai pembicaraan mulai ke arah tentang permasalahan hidup.

Si Andre, dulu adalah seorang mahasiswa lulusan terbaik di kampusnya, sekarang bekerja menjadi manager di salah satu perusahaan swasta di Jakarta, mengeluh kepada Profesor.

“Hidup saya kok gini2 aja ya Prof, sudah hampir 10 tahun saya bekerja, tapi saya selalu ga bisa mendapatkan posisi yang saya inginkan. Hanya jadi manager terus semenjak 2 tahun yang lalu, gaji saya ga pernah dinaikkan semenjak 2 tahun itu.”

Tiba2 Bobi, mahasiswa biasa2 aja, sekarang buka usaha sendiri di bidang makanan, mengeluarkan pendapat.

“Bukan kamu saja Dre, aku yang lebih parah. Liat aja usahaku ga maju2. Bahkan setiap aku pulang, istriku selalu marah2 dan ga pernah menyambutku. Tiap hari aku mau nangis Dre.”

Belum sempat sang Profesor bicara, Charles juga ikut mengeluh tentang kesusahan dalam hidupnya.

Mendengar ketiga alumninya mengeluh tentang kehidupan, profesor tak lantas menjawab, beliau malah masuk ke dalam, berkata ingin mengambilkan minum.

Beberapa menit kemudian, beliau datang dengan membawa beberapa cangkir dengan beragam jenis (ada plastik, beling, kristal) dan kopi serta gula dan air panas. Profesor mempersilahkan tamu2nya untuk membuat kopi sendiri.

Mereka sibuk memilih cangkir yang bagus, baru setelah itu menyeduh kopinya.

Tiba2 profesor berkata Coba dengarkan anak2ku, Hidup itu seperti secangkir kopi. Tadi kalian sibuk memilih cangkirnya, bukan kopinya. Sama juga, pekerjaan, uang itu adalah seperti cangkir. Hidup itu adalah kopinya. Jadi kalian selama ini hanya memikirkan cangkirnya, tanpa pernah menikmati kopinya. Nikmatilah kopinya anak2ku. Live is like a cup of coffee.

Ingat!! Orang yang bahagia bukanlah orang yang memiliki segala yang terbaik dalam segala hal, tapi orang yang bahagia adalah orang yang membuat segala sesuatu yang datang dalam hidup mereka menjadi yang terbaik

Live simply. Being happy is the priority of living. If u wanna be sad, be sad for something thats worth it.

Inspired by My sister, Dina.

Pulang dulu ah, udah jam 5 sore, saatnya balek ke kos, mandi, lalu makan. Masta.. ^^

Iklan
  1. rera manyun
    Januari 14, 2011 pukul 12:06 pm

    huaa…
    bagus tenan ini ceritanya..
    saya suka..
    hehe..
    hmm… betul banget, memang seharusnya menyukai apa yang kita lakukan dan melakukan apa yang kita suka..
    *berhubungan gak ya, malu-malu..*

    • Januari 15, 2011 pukul 4:19 pm

      hehe… thanks rera.. betul juga apa yang kamu katakan kalau seharusnya kita menyukai apa yang kita lakukan dan melakukan apa yang kita suka (tapi inget jangan sampai kebablasan)..

  2. Maret 10, 2011 pukul 2:18 am

    good story..
    banyak kisah inspiratif sebenarnya yang membuat kita
    jadi mengerti akan arti hidup ini..

    karena kebahagiaan sebenarnya bukan diluar sana..
    jika kebutuhan primer kita sudah terpenuhi..
    tinggal kita cari kebahagiaan di dalam hati kita..
    so.. Terimalah hidup apa adanya..^_^

    • Maret 10, 2011 pukul 2:23 am

      bener sekali.. kebahagiaan yang sejati itu sebenernya ada di dalam.. 😀

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: