Beranda > Kehidupan > Koin Peninggalan Kakek

Koin Peninggalan Kakek

Kugenggam koin itu di telapak tanganku. Dengan erat. Takkan kulepaskan barang sedetik pun. Terus dan terus kugenggam, sampai terkadang terasa menyakitkan. Ketika kuku-kuku jariku menancapkan dirinya ke telapak tanganku sendiri. Berbekas, bertanda, dan sakit. Itu karena aku takut koin itu terlepas begitu saja.

Koin itu begitu berharga. Koin itu memang sebetulnya sebuah koin langka yang amat kusukai. Koin itu peninggalan dari kakekku, seorang kolektor koin. Di antara banyak koin yang dimilikinya hanya ini yang kusukai. Mungkin karena tahun di koin ini sama dengan tahun lahir kakek. Tahun 1930. Kakek yang meninggal tahun lalu memang juga merupakan kesayanganku, sama seperti aku adalah kesayangannya.

Tuk…Aduhhh…

Tak hati-hati aku tersandung sebuah kerikil yang agak besar ketika aku berjalan pulang ke rumahku. Koin itu-sekeras apa pun genggamanku-terlepas begitu saja dari tanganku. Gerak reflek ketika aku tersandung, terantuk, untungnya tak sampai tersungkur ke tanah. Koin itu hilang, raib entah ke mana. Duhhh, tak tahukah koin itu begitu berharga? Aku menangis mencarinya. Tetapi agaknya usahaku malam itu sia-sia. Bulan pun seolah kurang berkompromi dan tak mau kerja sama dengan berlindung di balik awan. Bintang pun tak bersinar malam ini… Dan koin itu menggelinding di balik semak, tertutup lumpur dan becek yang menggenangi sebagian daerah tempat tinggalku karena hujan deras beberapa jam sebelumnya.

Aku menangis.

Ketika harus merelakan sesuatu yang kugenggam amat erat, itu adalah sesuatu yang berat. Jujurnya, aku belum rela. Aku lepaskan genggaman tanganku karena terpaksa. Herannya, tak kurasakan lagi kesakitan yang ada di tanganku seperti hari-hari sebelumnya. Ketika segalanya kugenggam erat. Ya, ada rasa yang hilang-ada kesedihan yang luar biasa ketika kehilangan koin kakek. Namun, di sisi yang berseberangan: aku koq merasakan kelegaan yang luar biasa karena tak lagi merasa tersiksa? Kuku-kuku itu tak lagi menyakitiku…

Dari kejadian itu aku belajar bahwa: banyak kali aku menggenggam sesuatu terlalu erat. Mungkin itu pacarku, suami/istriku, anakku, keinginanku yang harus terjadi, masa depanku, dan segala hal yang ingin kujadikan yang terbaik dengan caraku dan hanya dengan caraku. Namun, ada kalanya aku keliru. Menganggap dengan mengontrol segalanya, menempatkan semuanya dalam genggaman tanganku dan memegangnya erat-erat akan menghasilkan rasa aman dan nyaman. Aku keliru. Aku salah besar! Ternyata aku malah mengalami hari-hari yang mencekam: hidup dalam ketakutan, hidup dalam kecemasan, kuatir jangan-jangan mereka akan pergi meninggalkanku. Jangan-jangan apa yang kuinginkan tidak terjadi lalu bagaimana aku harus melanjutkan hidupku?

Ketika aku menggengamnya dengan lembut, dengan kekuatan yang cukup tetapi tidak memaksa, malahan kurasakan kenyamanan di tanganku sendiri. Mungkin ketika berelasi dengan orang-orang yang terkasih, orang-orang yang dekat di hati, inilah yang seharusnya kulakukan. Bukan dengan tangan besi, tetapi dengan menjadi pendengar yang baik yang bisa curhat dari hati ke hati.

Ketika aku menginginkan sesuatu yang sudah lama kugenggam dengan erat, ternyata kenyataannya tidak sesuai dengan keinginanku.

Aku marah. Aku kecewa.

Tetapi di balik itu pula, ketika keinginan itu terlepas dari tanganku, malah aku merasa lega. Ya, aku akan menangis, meraung, kecewa dan marah. Tetapi, setelah semua proses itu berlalu…Aku malah jadi bahagia. Suka cita meliputiku.

Segala sesuatu yang digenggam terlalu erat dalam hidup ini, akan berwujud kecewa. Sehingga ada baiknya sadar bahwa apa yang dimiliki adalah sifatnya sementara.

sumber dari Facebook, ditulis dan diubah seperlunya.

Iklan
  1. Juli 1, 2010 pukul 5:54 pm

    Itu namanya sikap posesif, keinginan memiliki sesuatu yang berlebihan. Mungkin karena kita terlalu sayang. Tapi, karena berlebihan terkadang membuat orang yang kita sayang dengan cara seperti itu menjadi tersiksa. Mungkin kalau benda tidak apa-apa diperlakukan seperti itu karena dia tidak bisa mengeluh kemudian berontak.

    🙂 salam

    Mochammad
    http://mochammad4s.wordpress.com/

    • Juli 1, 2010 pukul 6:18 pm

      betul sekali bro, cerita ini simple nya seperti itu, tapi kalau diibaratkan sebagai manusia, tentunya akan berbeda..

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: