Arsip

Archive for the ‘Romantis’ Category

Butuh Pengisi Acara? Tentang IT, Life Trauma, Motivasi? Call Me

April 14, 2012 1 komentar

Sebagai blogger lulusan IT yang doyan dengan teknologi, saya biasanya mengikuti perkembangan teknologi, terutama tentang gadget, mobile operating system, seperti android, iOS, windows phone dsb. Selain IT, berawal dari sering dicurhatin ma temen2, saya jadi merasa punya banyak segudang contoh2 masalah, dan how to solve it, at least tau bagaimana harus mengambil sikap, mulai deh belajar tentang life, tentang motivasi, mulai coba ngomong di depan temen2 yang lagi ngumpul, di forum kecil di kantor, saya mulai menyukai belajar tentang hal2 inovatif seperti ini.

Saya berniat untuk tetep sharing with other people, jadi kalau temen2 ada yang butuh buat isi acara, jangan yang gede2, cukup forum2 kecil aja, saya siap untuk jadi pembicara isi acara, mau di sekolah2 juga boleh, kalau untuk IT, saya ga terlalu expert sih, cuma ya lumayan lah, tapi lebih prefer ke life trauma, motivasi. Kalau ada yang mau tanya2 tentang life juga boleh silahkan.

Hubungi saya aja 08995127045, soal fee ga usah dipikirin, saya free juga ok kok. Posisi saya di Jakarta ya, tepatnya di Jakarta Barat. :)

Ayam atau Bebek? – Cacing dan Kotoran kesayangannya

Agustus 11, 2011 Tinggalkan Komentar

Cerita ini diambil dalam buku Cacing dan Kotoran kesayangannya (Ajahn Brahm), aku hanya ambil yang paling aku suka, yaitu Ayam atau Bebek.
Begini ceritanya, sepasang pengantin baru tengah berjalan bergandengan tangan di sebuah hutan
pada suatu malam musim panas yang indah, seusai makan malam.
Mereka sedang menikmati kebersamaan yang menakjubkan tatkala mereka
mendengar suara di kejauhan: “Kuek! Kuek!”

“Dengar,” kata si istri, “Itu pasti suara ayam.”

“Bukan, bukan. Itu suara bebek,” kata si suami.

“Nggak, aku yakin itu ayam,” si istri bersikeras.

“Mustahil. Suara ayam itu ‘kukuruyuuuk!’, bebek itu ‘kuek! kuek!’ Itu
bebek, Sayang,” kata si suami dgn disertai gejala-gejala awal
kejengkelan.

“Kuek! Kuek!” terdengar lagi.

“Nah, tuh! Itu suara bebek,” kata si suami.

“Bukan, Sayang. Itu ayam. Aku yakin betul,” tandas si istri, sembari
menghentakkan kaki.

“Dengar ya! Itu a? da? lah? be? bek, B-E-B-E-K. Bebek! Mengerti?” si
suami berkata dengan gusar.

“Tapi itu ayam,” masih saja si istri bersikeras.

“Itu jelas-jelas bue? bek, kamu? kamu?.”

Terdengar lagi suara, “Kuek! Kuek!” sebelum si suami mengatakan sesuatu
yang sebaiknya tak dikatakannya.

Si istri sudah hampir menangis, “Tapi itu ayam?.”

Si suami melihat air mata yang mengambang di pelupuk mata istrinya,
dan akhirnya, ingat kenapa dia menikahinya. Wajahnya melembut dan katanya
dengan mesra, “Maafkan aku, Sayang. Kurasa kamu benar. Itu memang suara
ayam kok.”

“Terima kasih, Sayang,” kata si istri sambil menggenggam tangan suaminya.

“Kuek! Ku ek!” terdengar lagi suara di hutan, mengiringi mereka berjalan
bersama dalam cinta.

Maksud dari cerita bahwa si suami akhirnya sadar adalah: siapa sih yang
peduli itu ayam atau bebek? Yang lebih penting adalah keharmonisan mereka,
yang membuat mereka dapat menikmati kebersamaan pada malam yang indah itu.
Berapa banyak pernikahan yang hancur hanya gara-gara persoalan sepele?
Berapa banyak perceraian terjadi karena hal-hal “ayam atau bebek”?

Ketika kita memahami cerita tersebut, kita akan ingat apa yang menjadi
prioritas kita. Banyak hal jauh lebih penting ketimbang mencari siapa yang
benar tentang apakah itu ayam atau bebek
. Lagi pula, betapa sering kita
merasa yakin, amat sangat mantap, mutlak bahwa kita benar, namun belakangan
ternyata kita salah? Lho, siapa tahu? Mungkin saja itu adalah ayam yang
direkayasa genetik sehingga bersuara seperti bebek !

Tunggu Aku Di Jakarta – Baru Terasa, Sungguh Jahatnya ‘Jarak’

Kamu penggemar Sheila On 7? Ya, aku juga.

Tunggu aku di Jakarta, sebuah lagu dari album kedua Sheila On 7 yang bertajuk Kisah Klasik untuk Masa Depan ini akhir2 ini sering terdengar di sudut kamar kos di sebuah kota kecil dekat dengan Jogja. Coba tebak, siapa orang yang sering memutar lagu itu? Ya, tebakan kalian benar. Orang itu adalah aku. aku

Aku, jujur saja, awalnya tidak terlalu suka dengan lagu Tunggu Aku di Jakarta ini, aku lebih suka dengan lagu2 ngebeat Sheila On 7 seperti Sahabat Sejati, Seberapa Pantas dsb. Lagu ini seperti lagu numpang lewat ketika aku menyalakan winamp dengan mode shuffle. Tanpa kesan, just listening. musik

Sampai suatu hari . . . Aku merasa menemui titik balik dalam hidupku, ada seseorang yang mampu merubah pandanganku terhadap lagu ini. Lama2 aku mulai menikmati lirik demi lirik di lagu ini. Dan semakin hari, lirik2nya menjadi semakin nyata terjadi dalam kehidupanku, detail lagu tersebut semakin mengena di hatiku, videonyapun yang langsung kucari di Youtube, semakin menjadikan lagu ini sebagai soundtrack kehidupanku.

Kisah itu berawal pada tanggal 29 Juni 2010, ketika aku pertama kali bertemu dengan seseorang wanita, yang tak ku mengerti dan tanpa kusadari, sekarang telah menjadi bagian penting di dalam kehidupanku. Read more…

Persahabatan lebih dari sekedar Cinta

Persahabatan itu juga sebuah bentuk cinta, hanya saja dilengkapi oleh pengertian. Friendship is love, with understanding. Anda tentu pernah dengar bahwa cinta itu buta. Oleh karenanya, cinta bisa menghilangkan objektivitas, menggiring kita untuk berlaku tidak adil, termasuk kepada diri sendiri.

Persahabatan juga mirip-mirip sebenarnya. Seorang sahabat sejati, akan membela kita, apapun ceritanya. Tetapi bukan karena persahabatan itu buta seperti cinta. Ia hanya memilih menutup mata. Artinya, pilihan sikap itu dibuat dengan kesadaran.

Kemudian, cinta hampir selalu dicampuri oleh rasa ingin memiliki, bahkan menguasai. Padahal, sebuah hubungan yang sehat, Read more…

Gaji Minimal untuk Menikah

Juli 22, 2010 5 komentar

Mesti banyak orang yang berfikir, “Kalo nanti aku nikah, kira2 gajiku yang segini cukup kagak ya?”

Oke, sebelumnya kita akan buat survey secara garis besar aja..
Berikut adalah daftar pengeluaran standar bulanan setelah nikah.. Mungkin sangat membantu bagi orang yang mengalami “Financial Syndrome after Marriage”

Daftar anggaran bulanan (asumsi : disusun berdasarkan skala proritas, d isusun dengan sangat2 relatif, dan berdasarkan basic needs standar menengah ke bawah)

1. Makan

Dengan asumsi sekali makan adalah 5.000 (ini tidak berlaku di ibukota ya) Maka makan 3x sehari, kali 2 orang (karena ga mungkin kan makan sepiring berdua, itu hanya lagu, kawan), kali 30 hari adalah Rp 900.000

Tips
Jangan beli masakan yang uda jadi, usahakan masak sendiri di rumah..

2.Kontrakan

Dengan asumsi masih ngontrak a.k.a belum punya rumah sendiri, Maka dana untuk kontrakan sekitar 500.000/bulan
Read more…

Arti Sebuah Perkawinan

Agaknya hakikat perkawinan kini makin tak mudah dipahami, menyusul
makin banyaknva pasangan gampang menceraikan diri.

Padahal, kalau kita buat daftar alasan mengapa orang memutuskan untuk
menikah dan daftar alasan mengapa mereka bercerai, pasti akan
ditemukan banyak overlaping pada kedua daftar tersebut.

Ketika menjemput teman di bandara sore tadi, tak sengaja saya
mendapat pelajaran berharga arti sebuah perkawinan.
Di ruang kedatangan, seorang pria paruh baya menenteng
koper dan tas kecil tergopoh menjemput keluarga yang datang
menjemputnya.

Sambil berjongkok ia memeluk anaknya yang kecil, perempuan usia lima
tahun. Dari hangatnya pelukan erat anak-bapak ini tercermin betapa
masing-masing amat rindu. “Apa kabar Dik? Papa kangen nih.” Sang anak
tersipu-sipu, Adik juga kangen Pa.” Kemudian ia memandang si sulung.
Bocah lelaki usia 10 tahun. “Wah, Dion sudah gede sekarang” ujarnya
sambil merangkulnya. Mereka saling mengelus kepala. Adegan
selanjutnya, adalah ciuman kasih si pria terhadap ibu kedua anaknya,
layaknya pengantin baru.

Rasa iri terbersit di hati melihat adegan tersebut.

“Sudah berapa tahun usia perkawinan Anda,”
tanya saya kepada si pria. Read more…

Mencintai tanpa syarat…

Maret 12, 2009 9 komentar

Lima tahun usia pernikahanku dengan Ellen sungguh masa yang sulit. Semakin hari semakin tidak ada kecocokan diantara kami. Kami bertengkar karena hal-hal kecil. Karena Ellen lambat membukakan pagar saat aku pulang kantor. Karena meja sudut di ruang keluarga yang ia beli tanpa membicarakannya denganku, bagiku itu hanya membuang uang saja.

Hari ini, 27 Agustus adalah ulang tahun Ellen. Kami bertengkar pagi ini karena Ellen kesiangan membangunkanku. Aku kesal dan tak mengucapkan selamat ulang tahun padanya, kecupan di keningnya yang biasa kulakukan di hari ulang tahunnya tak mau kulakukan. Malam sekitar pukul 7, Ellen sudah 3 kali menghubungiku untuk memintaku segera pulang dan makan malam bersamanya, tentu saja permintaannya tidak kuhiraukan.

Jam menunjukkan pukul 10 malam, aku merapikan meja kerjaku dan beranjak pulang. Hujan turun sangat deras, sudah larut malam tapi jalan di tengah kota Jakarta masih saja macet, aku benar-benar dibuat kesal oleh keadaan. Membayangkan pulang dan bertemu dengan Ellen membuatku semakin kesal!

Akhirnya aku sampai juga di rumah pukul 12 malam, dua jam perjalanan kutempuh yang biasanya aku hanya membutuhkan waktu 1 jam untuk sampai di rumah.

Kulihat Ellen tertidur di sofa ruang keluarga. Sempat aku berhenti di hadapannya dan memandang wajahnya. “Ia sungguh cantik” kataku dalam hati, “Wanita yang menjalin hubungan denganku selama 7 tahun sejak duduk di bangku SMA yang kini telah kunikahi selama 5 tahun, tetap saja cantik”. Aku menghela nafas dan meninggalkannya pergi, aku ingat kalau aku sedang kesal sekali dengannya..

Aku langsung masuk ke kamar. Di meja rias istriku kulihat buku itu, buku coklat tebal yang dimiliki oleh istriku. Bertahun-tahun Ellen menulis cerita hidupnya pada buku coklat itu. Sejak sebelum menikah, tak pernah ia ijinkan aku membukanya. Inilah saatnya! Aku tak mempedulikan Ellen, kuraih buku coklat itu dan kubuka halaman demi halaman secara acak.

14 Februari 1996. Terima kasih Tuhan atas pemberianMu yang berarti bagiku, Vincent, pacar pertamaku yang akan menjadi pacar terakhirku. Hmm… aku tersenyum, Ellen yakin sekali kalau aku yang akan menjadi suaminya. Read more…

Sebelum semuanya terlambat..

Maret 12, 2009 Tinggalkan Komentar

Peter dan Tina sedang duduk bersama di taman kampus tanpa melakukan apapun, hanya memandang langit sementara sahabat-sahabat mereka sedang asik bercanda ria dengan kekasih mereka masing-masing.

Tina: ‘Duh bosen banget. Aku harap aku juga punya pacar yang bisa berbagi waktu denganku.’

Peter: ‘kayaknya cuma tinggal kita berdua deh yang jomblo. cuma kita berdua saja yang tidak punya pasangan sekarang.’ (keduanya mengeluh dan berdiam beberapa saat)

Tina: ‘Kayaknya aku ada ide bagus deh. kita adakan permainan yuk?’
Peter: ‘Eh? permainan apaan?’

Tina: ‘Eng… gampang sih permainannya. Kamu jadi pacarku dan aku jadi pacarmu tapi hanya untuk 100 hari saja. gimana menurutmu?’
Peter: ‘baiklah… lagian aku juga gak ada rencana apa-apa untuk beberapa bulan ke depan.’

Tina: ‘Kok kayaknya kamu gak terlalu niat ya… semangat dong! hari ini akan jadi hari pertama kita kencan. Mau jalan-jalan kemana nih?’
Peter: ‘Gimana kalo kita nonton saja? Kalo gak salah film The Troy lagi maen deh. katanya film itu bagus’

Tina: ‘OK dech…. Yuk kita pergi sekarang…. ntar pulang nonton kita ke karaoke ya… ajak aja adik kamu sama pacarnya biar seru.’
Peter : ‘Boleh juga…’
(mereka pun pergi nonton, berkaraoke dan Peter mengantarkan Tina pulang malam harinya)

Hari ke 2:
Peter dan Tina menghabiskan waktu untuk ngobrol dan bercanda di kafe, suasana kafe yang remang-remang dan alunan musik yang syahdu membawa hati mereka pada situasi yang romantis. Sebelum pulang Peter membeli sebuah kalung perak berliontin bintang untuk Tina.

Hari ke 3:
Mereka pergi ke pusat perbelanjaan untuk mencari kado untuk seorang sahabat Peter.
Setelah lelah berkeliling pusat perbelanjaan, mereka memutuskan membeli sebuah miniatur
mobil mini. Setelah itu mereka beristirahat duduk di foodcourt, makan satu potong kue
dan satu gelas jus berdua dan mulai berpegangan tangan untuk pertama kalinya. Read more…

Jangan Tunggu Hari Esok…

Maret 12, 2009 2 komentar

Segalanya berawal ketika saya masih berumur 6 tahun. Ketika saya sedang bermain di halaman rumah saya di California, saya bertemu seorang anak laki-laki. Dia seperti anak laki-laki lainnya yang menggoda saya dan kemudian saya mengejarnya dan memukulnya.

Setelah pertemuan pertama dimana saya memukulnya, kami selalu bertemu dan saling memukul satu sama lain di batas pagar itu. Tapi itu tidaklah lama. Kami selalu bertemu di pagar itu dan kami selalu bersama. Saya menceritakan semua rahasia saya.

Dia sangat pendiam, dia hanya mendengarkan apa yang saya katakan. Saya menganggap dia enak diajak bicara dan saya dapat berbicara kepadanya tentang apa saja. Di sekolah, kami memiliki teman-teman yang berbeda tapi ketika kami pulang kerumah, kami selalu berbicara tentang apa yang terjadi di sekolah.

Suatu hari,saya bercerita kepadanya tentang anak laki-laki yang saya sukai tetapi telah menyakiti hati saya. Dia menghibur saya dan mengatakan segalanya akan beres. Dia memberikan kata-kata yang mendukung dan membantu saya untuk melupakannya. Saya sangat bahagia dan menganggapnya sebagai teman sejati. Tetapi saya tahu bahwa sesungguhnya ada yang lainnya dari dirinya yang saya suka. Saya memikirkannya malam itu dan memutuskan kalau itu adalah rasa persahabatan.

Selama SMA dan semasa kelulusan, kami selalu bersama dan tentu saja saya berpikir bahwa ini adalah persahabatan. Tetapi jauh di lubuk hati, saya tahu bahwa ada sesuatu yang lain.

Pada malam kelulusan, meskipun kami memiliki pasangan sendiri-sendiri, sesungguhnya saya menginginkan bahwa sayalah yang menjadi pasangannya. Malam itu, setelah semua orang pulang, saya pergi ke rumahnya untuk mengatakannya. Malam itu adalah kesempatan terbesar yang saya miliki tapi saya hanya duduk di sana dan memandangi bintang bersamanya dan bercakap-cakap tentang cita-cita kami. Saya melihat ke matanya dan mendengarkan ia bercerita tentang impiannya. Bagaimana dia ingin menikah dan sebagainya. Dia bercerita bagaimana dia ingin menjadi orang kaya dan sukses. Yang dapat saya lakukan hanya menceritakan impian saya dan duduk dekat dengan dia.

Saya pulang ke rumah dengan terluka karena saya tidak mengatakan perasaan saya yang sebenarnya. Saya sangat ingin mengatakan bahwa saya sangat mencintainya tapi saya takut. Saya membiarkan perasaan itu pergi dan berkata kepada diri saya sendiri bahwa suatu hari saya akan mengatakan kepadanya mengenai perasaan saya. Read more…

Categories: Romantis
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 207 pengikut lainnya.